Tampilkan postingan dengan label Catatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 Desember 2016

'Hanya yang Punya Ponakan yang Tahu Kebahagian-kebahagiaan Seperti Ini'



1. Tangisan, Tawa atau Suara Apapun yang Keluar dari Mulutnya bisa Menyemarakkan   Rumah
        Antara rumah yang terdapat bayi di dalamnya dengan yang tak ada bayi memang terasa beda. Ada suasana kebahagiaan yang berbeda saat ponakan lahir ke dunia, apalagi saat kami menyambut ponakan pertama yang juga merupakan cucu pertama Mama. Suasana di rumah menjadi makin hangat dengan suara tangisnya. Ditambah lagi dengan adanya wangi-wangi khas bayi seperti wangi minyak telon, wangi sabun dan shamponya, dan yang paling khas adalah wangi tubuhnya.
       Rasanya tak ada saat-saat membosankan di rumah, karena jika sedang tidak ada pekerjaan kita selalu ingin malas-malasan di samping tempat tidurnya, mengamati wajah polosnya yang sedang tertidur atau juga mencoba mengusiknya jika sudah kelamaan tidur.
      Di minggu-minggu pertama dia lahir, rumah selalu ramai oleh tamu yang ingin melihatnya atau menjenguk bundanya. Mulai dari saudara-saudara, para tetangga, teman-teman ayah dan bundanya, dan bahkan kerabat banyak yang bermalam di rumah. Suasana seperti ini memang menyenangkan tapi jarang terjadi.

Jumat, 02 Desember 2016

"Abaikan Flu Demi Penyu"





     Tidak semua pantai bisa menjadi lokasi bertelur bagi penyu. Penyu akan memilih pantai yang memiliki pasir yang empuk, gelap dan sepi dari aktifitas manusia. Karakteristik ini cocok dengan pantai yang ada di Ampiang Parak, Kecamatan Sutera, Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Pantai sepanjang 1,7 km itu memiliki pasir putih yang bersih dan terpisah dari pemukiman masyarakat oleh muara yang sudah buntu.
     Pada saat mengunjungi pantai ini, saya takjub melihat pemandangan alam yang disuguhkannya. Pantainya nampak seperti sebuah pulau pasir yang dipenuhi oleh pohon cemara laut. Untuk bisa sampai ke pantai itu, pengunjung bisa menaiki rakit kayu yang disediakan oleh warga setempat atau juga bisa langsung menyeberang jika kebetulan pasang lagi surut.

Sabtu, 12 November 2016

'Taragak Nak ka Padang'


...
...
       Bertahun-tahun lalu, saat saya masih menjadi bagian dari kota kecil bernama Padang, saya suka naik angkot sendirian. Naik di depan salah satu gerbang kampus Universitas Negeri Padang (UNP) dan turun di Pasar Raya Padang.
       Setelah turun saya mampir di salah satu warung tenda yang menjajakan berbagai jenis minuman segar yang berjejel tak beraturan di depan Mesjid Muhammadiah Padang. Dari warung tenda itu saya membeli minuman, biasanya teh poci atau es cappuccino cincau. Dan setelah itu saya kembali menaiki angkot jalur Labor dan berhenti di depan gang rumah kos.
       Ya, hanya begitu saja. Saya naik angkot, turun di pasar, beli minuman dan naik angkot lagi untuk pulang. Tanpa teman, juga tanpa tujuan. Tapi saya menikmati perjalanan kecil semacam itu. Biasanya saya melakukan hal itu jika lagi suntuk atau lagi letih pikiran.

Sabtu, 10 September 2016

‘Kutipan-kutipan Indah dalam Novel Edensor’


...
Edensor adalah novel vaforitku. Sejak pertama kali membacanya pada tahun 2008 hingga sekarang, mungkin sudah ada sepuluh kali kubaca buku ketiga dari Andrea Hirata itu. Bersama Edensor, saya hanyut dalam renungan, menjadi termotivasi, kadang juga merasa tersentil dan sering juga ditatap aneh oleh Mama karena tertawa-tawa sendiri bersama sebuah bacaan.
.
Ada beberapa kutipan dalam novel Edensor ini yang menjadi vaforit saya. Saya menuliskannya kembali bukan berdasarkan urutan posisinya dalam buku, tapi berdasarkan yang paling saya suka.



. “Aku ingin hidup mendaki puncak tantangan, menerjang batu granit kesulitan, menggoda marabahaya, dan memecahkan misteri dengan sains. Aku ingin menghirup berupa-rupa pengalaman lalu terjun bebas menyelami labirin lika-liku hidup yang ujungnya tak dapat disangka. Aku mendamba kehidupan dengan kemungkinan-kemungkinan yang bereaksi satu sama lain seperti benturan molekul uranium : meletup tak terduga-duga, menyerap, mengikat, mengganda, berkembang, terurai dan berpencar ke arah yang mengejutkan. Aku ingin ke tempat-tempat yang jauh, menjumpai beragam bahasa dan orang-orang asing. Aku ingin berkelana, menemukan arahku dengan membaca bintang gemintang. Aku ingin mengarungi padang dan gurun-gurun, ingin melepuh terbakar matahari, limbung dihantam angin, dan menciut dicengkeram dingin. Aku ingin kehidupan yang menggetarkan, penuh dengan penaklukan. Aku ingin hidup! Ingin merasakan sari pati hidup.”

Sabtu, 03 September 2016

'Yang Datang dan Yang Pergi'

...

Sewaktu baru tamat sekolah dasar, saya sempat jadi pribadi galau dan susah tidur berhari-hari hanya karena memikirkan akan bagaimana saya nanti di sekolah dengan tingkat yang lebih tinggi. Apakah hari-hari di sana akan seindah dengan sekolah sebelumnya, apakah saya akan bisa bersaing dan mempertahankan prestasi, dan bisakah saya punya teman-teman dengan mudah?
.
Dan, baru beberapa minggu di sekolah yang baru, saya jadi sedikit menyesal kenapa saya harus mengalami insomnia gara-gara menakutkan sesuatu yang tak sedikitpun saya alami. Terlebih dalam urusan mencari teman. Di manapun berada, selama kita bisa menjaga sikap dengan baik dan selalu berusaha menjadi pribadi yang menyamankan orang lain, teman baru akan mudah didapat saat teman lama sudah banyak yang pergi.
.
Hal serupa tentu saja juga terjadi di waktu tamat dari sekolah menengah dan usai kuliah. Cuma bedanya perpisahan dengan teman yang kita miliki saat telah memasuki usia dewasa terasa jauh lebih menyedihkan. Karena teman yang sebenarnya teman adalah kawan terdekat dan terbaik yang kita dapatkan saat kita telah dewasa, bukan di waktu anak-anak atau remaja.
.
Itulah kenapa saya hanya menyebut ‘teman’ untuk kawan-kawan terdekat sewaktu SD dan SMP, dan menyebut ‘sahabat’ untuk kawan-kawan terdekat sewaktu kuliah dan SMA, atau kawan-kawan sewaktu SD dan SMP yang masih bertahan dekat hingga sekarang. Sahabat punya arti yang lebih luas dari teman. Teman adalah kawan bermain. Sahabat juga kawan bermain, tapi selain itu juga menjadi kawan berbagi, kawan berdiskusi, dan kadangkala juga menjadi kawan bertengkar berdebat.

'Kepada Mama; Izinkanlah Aku Menjadi Aku'



Hal pertama yang ingin aku katakan adalah ; Mama, maafkan aku. Di usia yang telah seperempat abad ini aku masih saja begini, seperti tanpa arah, tanpa pegangan yang pasti. Untukmu aku juga belum melakukan banyak hal berarti. Tapi yang pasti, Ma, aku punya tujuan, punya impian dan masih tabah memperjuangkannya hingga kini.
Aku bukannya sedang tidak melakukan apa-apa. Hanya saja, aku tak perlu seperti ayam, kan? Ayam memang akan bersuara gaduh meski telur yang ia hasilkan cuma satu. Sedangkan aku tak mau bicara banyak, meski sebenarnya apa yang sedang aku lakukan jauh lebih banyak dari orang-orang yang sering ‘bicara banyak’ tentangku padamu atau di belakang punggungmu.
Daripada menjadi seperti buih di lautan, yang nampak banyak tapi hilang semua begitu diletakkan di telapak tangan, aku lebih memilih menjadi lautan itu sendiri, yang tenang dan diam, namun dalam dan menenggelamkan.

Sabtu, 27 Agustus 2016

Untukmu, Perempuan yang Tabah Merawat Luka



Aku tahu kau sering melakukan itu, berdiri di depan cermin untuk sejenak memerhatikan raut mukamu yang lelah. Lalu kau memaksakan sebuah senyuman sekadar meyakinkan diri bahwa kau belum lupa bagaimana caranya.
Senyum itu hanya sejenak, dan kau paham betul bahwa senyum yang dipaksakan memang tak pernah bertahan lama.
Lalu, seperti biasa kau awali hari dengan satu helaan nafas panjang. Membujuk diri untuk tabah dan berdamai dengan luka yang masih menganga. Dan kemudian, di sepanjang sisa hari kau rasakan dadamu dihantam berbagai kecemasan yang menggerus habis sinar di rautmu.

Selasa, 02 Agustus 2016

Paskibra Pesisir Selatan, Sejumput Kenangan di Kota Painan

      Hari Minggu lalu (31 Juli 2016), saya pergi mengantar adik melakukan daftar ulang anggota paskibra Kabupaten Pesisir Selatan tahun 2016. Daftar ulangnya dilakukan di wisma San Laida yang ada di Sago, bersebelahan dengan Islamic Centre, dan setelah daftar ulang tersebut, peserta akan langsung masuk wisma untuk seterusnya menjalani masa karantina selama pelatihan hingga selesai acara pembubaran sekitar tanggal 18 atau 19 Agustus.
Jika dari Kambang atau Lengayang, untuk sampai ke sago dari Kambang terlebih dahulu melewati Kota Painan, ibukota Kabupaten Pesisir Selatan, kota kecil yang bagiku sarat akan kenangan.
Sepuluh tahun yang lalu, tepatnya di Agustus 2006, saya juga menjalani masa pelatihan paskibra Kabupaten Pesisir Selatan selama tiga minggu. Bedanya dengan sekarang, pelatihan masa itu diadakan di Gor Ilyas Yakub dan pesertanya menginap di asrama bola yang ada di GOR itu. Waktu itu saya baru saja naik ke kelas dua SMA. Masa-masa remaja yang (seharusnya) indah.
Saya menjadi bagian dari 70 orang peserta yang berasal dari SMA dan SMK dari Lunang Silaut hingga Tarusan. Yang diikutkan untuk seleksi pada tahun itu sepertinya tidak seluruh sekolah, karena seingat saya ada SMA dan SMK yang tidak mengutus wakilnya di seleksi dan juga tidak ada peserta dari Madrasah Aliyah. Saya tidak tahu ini karena alasan apa. Seleksi diikuti oleh ratusan peserta yang diselenggarakan di GOR Zaini Zein Painan. Saya waktu itu ikut seleksi bersama 19 teman-teman lainnya dari SMANDU Lengayang dan yang lolos hanyalah empat orang. Jumlah yang lumayan banyak untuk sekolah-sekolah yang berada di selatannya kabupaten yang juga terletak di selatan Sumatera Barat ini. Karena memang dari tahun ke tahun anggota Paskab Pessel ini didominasi oleh peserta yang berasal dari sekolah-sekolah yang ada di Painan dan sekitarnya (Kec. Ampek Jurai). Untuk tahun ini saja dari SMANDU Lengayang hanya lolos dua orang peserta.
Sepertinya banyak yang berbeda dari pelaksanaan Paskab Pessel tahun ini. Selain penginapan peserta yang berpindah lokasi dari Painan ke Sago, urusan daftar ulang hingga pengaturan masuk asrama juga berpindah tangan. Seingat saya, sepuluh tahun yang lalu, mulai dari tahapan seleksi, masuk asrama, pelatihan, pengukuhan, pembubaran hingga penerimaan piagam penghargaan, keseluruhannya di handle oleh pelatih dan pembina yang merupakan gabungan dari TNI, POLRI dan Pemda. Tapi pada tahun ini (saya tidak tahu sejak kapan mulainya), prosesi daftar ulang di atur oleh beberapa orang purna yang sepertinya juga berasal dari Kota Painan dan sekitarnya. Sebenarnya memang tak penting siapa atau bagaimana pengaturannya, yang penting adalah mana baiknya, toh catatan ini juga cuma sekedar cuap-cuap saya yang kebetulan menyaksikannya.
Purna Paski Pessel memang memiliki organisasi sendiri bernama PPI Pessel, yang merupakan turunan dari organisasi Purna Paskibra Indonesia. Saya tak tahu seluk beluk organisasi ini karena memang saya tak pernah aktif di sana, hanya sekedar terdaftar di grup yang ada di Facebook saja.
Menjadi anggota paski memang memberikan banyak pengalaman meski saat menjalani masa pelatihannya lumayan terasa berat. Jam enam pagi seluruh anggota (kecuali yang piket harian) harus sudah membentuk barisan rapi di jalan yang ada di belakang asrama. Setelah itu akan ada salah seorang pelatih yang akan memandu untuk lari pagi mengitari hampir seperempat kota (Painan memang kota kecil). Dan setelah itu, akan diberi waktu sekitar setengah jam untuk bersih-bersih diri. Kalau waktunya sempat dan airnya ada, kami bisa mandi, tapi selama pelatihan kami memang lebih sering tidak mandi pagi karena air jarang hidup saat pagi. Belum lagi antriannya yang selalu panjang di depan kamar mandi, dan udah gitu waktu antara selesai lari pagi dengan sarapan selalu mepet.
Setelah sarapan tak ada lagi jeda waktu untuk istirahat. Kami harus buru-buru memasang sepatu dan setelah itu langsung membentuk barisan di lapangan untuk apel pagi. Baru dianjutkan dengan latihan hingga maghrib menjelang.
Latihan paling berat dirasakan di hari-hari pertama yaitu di saat latihan fisik. Hal itu dikarenakan sebagian besar peserta, terlebih perempuan, tidak terbiasa olah raga sebelum masa karantina, sementara sejak hari pertama pelatihan fisik langsung dipaksa bergerak habis-habisan dari pagi hingga sore. Kami harus lari, jalan jongkok, loncat-loncat, merangkak dan merayap. Jika ada yang salah gerakan atau berulah saat latihan, diberi hukuman berupa push up bagi yang laki-laki dan skot jump bagi yang perempuan. Saya juga ingat waktu itu hampir sebagian besar peserta perempuan mengalami memar-memar dilututnya setelah merangkak-rangkak di lapangan. Setelah makan malam terkadang masih ada kegiatan lain berupa pemberian arahan atau sekedar acara hiburan. Memasuki minggu kedua pelatihan baru terasa ringan dan menyenangkan. Sekali selama latihan kami juga dibawa refreshing ke Pantai Carocok yang tak jauh dari lokasi pelatihan (antar tempat di Kota Painan memang tak ada yang berjauhan).
Adik saya, Della, di tahun sebelumnya (Agustus 2015) juga telah mengikuti paskibra di tingkat kecamatan sebagai pembawa baki bendera. Kakak saya, Yona, juga pernah menjadi pembawa baki bendera di tahun 2007. Kami tiga saudara (tiga-tiganya perempuan) pernah mengikuti paskibra dan bahkan kakak ipar saya juga menjadi anggota paskibra di tingkat provinsi di Kota Padang. Sebenarnya untuk tahun ini kami berharap Della bisa mengikuti seleksi paski untuk provinsi. Tapi entah kenapa, undangan untuk mengikuti seleksi paski tingkat provinsi tersebut tidak sampai ke SMANDU Lengayang.
*ed

Sabtu, 30 Juli 2016

'Jangan Salah Ngasih Perhatian'



Beberapa tahun yang lalu, salah seorang senior memberi nasehat begini; “Jangan bertanya kapan sidang/ujian pada orang atau teman yang sedang berjuang menyelesaikan skripsinya, jangan bertanya kerja di mana pada orang yang belum lama diwisuda, jangan bertanya kapan nikah pada orang yang masih lajang statusnya, dan jangan bertanya kapan mau punya momongan bagi pasangan yang sudah bertahun-tahun menikah.”
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu memang sering dijadikan sebagai alasan untuk menunjukkan perhatian, tapi ketahuilah, ketimbang membuat senang, pertanyaan-pertanyaan tersebut justru lebih sering membuat jengkel orang yang ditanya. Karena bagi mereka yang sedang berjuang untuk menyelesaikan skripsinya, mendapatkan pekerjaan atau menemukan jodohnya, dan yang masih tabah berdoa untuk mendapatkan keturunannya, memikirkan kalimat untuk menjawabnya jelas tidak mudah. Terlebih jika ia sudah mendapatkan pertanyaan serupa dari banyak orang. Maka, tidak hanya jengkel yang ia rasakan, tapi juga kesedihan.

Minggu, 24 Juli 2016

Sahabat yang (Hanya) Menyenangkan



 
 “Jangan mencari teman yang membuatmu merasa nyaman, tapi carilah teman yang memaksamu untuk berkembang.”
Itu adalah kalimat yang pernah aku dengar dari salah seorang senior di saat awal perkuliahan dulu, dan aku setuju seratus persen dengan pernyataan itu.
Teman dekat, atau sahabat, siapa orang di dunia ini yang tidak membutuhkannya? Bahkan hewan pun punya teman dalam hidupnya. Cobalah pergi ke sebuah padang rumput yang ada hewan atau binatang ternak yang sedang mencari makan dengan bebas. Mereka pasti akan membentuk kawanan atau gerombolan dengan sejenisnya. Seperti kawanan sapi, kawanan kambing, kawanan bangau, atau kawanan serigala yang hidup liar di Afrka sana. Dalam biologi kita menyebutnya populasi. Tapi terserah apa istilahnya, yang pasti kita tahu bahwa hewan pun butuh teman, apalagi manusia yang sejak dulunya telah dikodratkan sebagai zoon politicon, atau mahkluk sosial.

Sabtu, 23 Juli 2016

Untuk yang Maha Mendengar, Aku Ingin Bercerita


Tuhan, ini aku datang lagi, yang entah pada kali ke berapa hari ini aku memanggil namaMu, meski hanya terlafazkan dalam hati.
Tuhan, aku selalu saja bingung memilih kata apa, atau kalimat apa untuk membuka dialogku ke padaMu, tapi yang jelas, apapun yang akan aku sampaikan kali ini lagi-lagi tentang segala kecemasan yang berkecamuk dalam hati. Tapi untuk pertama kalinya aku mohon ampun kepadaMu, karena aku bukanlah seorang hamba yang pandai menata hati, sehingga segala kecemasan tersebut kentara tergambar di wajahku yang murung. Aku minta ampun padamu Rabb, jika sekiranya hal itu membuatku menjadi seperti, atau tak bersyukur kepadaMu.