Tuhan, ini aku datang lagi, yang entah
pada kali ke berapa hari ini aku memanggil namaMu, meski hanya terlafazkan
dalam hati.
Tuhan, aku selalu saja bingung memilih
kata apa, atau kalimat apa untuk membuka dialogku ke padaMu, tapi yang jelas,
apapun yang akan aku sampaikan kali ini lagi-lagi tentang segala kecemasan yang
berkecamuk dalam hati. Tapi untuk pertama kalinya aku mohon ampun kepadaMu,
karena aku bukanlah seorang hamba yang pandai menata hati, sehingga segala
kecemasan tersebut kentara tergambar di wajahku yang murung. Aku minta ampun
padamu Rabb, jika sekiranya hal itu membuatku menjadi seperti, atau tak
bersyukur kepadaMu.
Sungguh Tuhanku, tak inginku menjadi
hamba yang kufur akan nikmatMu yang begitu banyak kau curahkan kepadaku, hanya
saja aku belum mampu menyimpan kecemasan-kecemasan itu jauh di dalam hati
hingga mereka menutup rona cerah di mukaku. Dan juga melaluiMu, kusampaikan
maafku untuk orang-orang yang mungkin tersinggung atau menjadi takut pada wajahku
yang tak lagi terkesan ramah. Aku hanya tak mungkin saja menerakan semua pada
mereka, bahwa ada beban berat di fikiranku yang membuatku tak mampu selalu
tersenyum, tertawa dan seakan terlihat baik-baik saja seperti mereka.
Tuhan, aku juga minta ampun, jika
sekiranya segala kecemasan yang membeban di hatiku terkadang membuatku seperti
memandang sinis hidup ini. Ampunkan aku Tuhan, karena bukankah Engkau selalu
menempatkan hambaMu pada sebuah kondisi dengan maksud penuh hikmah di dalamnya?
Dan, bukankah Engkau selalu punya skenario terbaik untuk setiap hambaMu yang
berdoa dan berusaha?
Sungguhpun demikian Tuhan, aku tetap
memohon padaMu, jika sekiranya nanti aku sampai pada titik paling nadir di
dalam hidup dan perjuanganku, jika sekiranya nanti aku kehilangan arah dan
tujuan hidupku, maka yakinkanlah aku bahwa takdirMu jauh lebih baik dari semua
yang aku impikan itu.
Tuhan, seperti yang juga Engkau tahu,
terkadang aku menjadi marah. Marah pada apa saja. Marah pada hidupku, marah
pada kebodohanku, marah pada ketidakmampuanku. Itu karena terkadang aku juga
menjadi sangat lelah. Lelah pada usaha yang seperti sia-sia, lelah pada
perjuangan yang tak kunjung berbuah. Lelah pada perasaan bersalah dan juga lelah
pada perasaan takut disalahkan. Segala kelelahan itu, segala kemarahan itu, tak
pelak membuatku menyurutkan langkah, juga tak jarang membuatku sejenak menjauh
dariMu. Maafkan aku Tuhan, bukankah Engkau memerintahkan hambaMu untuk
bersabar?
Tuhanku, yang Maha Pengasih dan
Penyanyang, yang Maha Memberi Ampunan dan Pertolongan, yang Maha Mendengar dan
yang Maha Mengabulkan permintaan, padaMu kutitipkan segala cita, semoga
senantiasa kau peluk segala mimpiku. Dan semoga selalu Engkau mampukan aku
untuk terus memperjuangkannya. Dan semoga Engkau beri aku kesempatan
mewujudkannya. Tapi jika sekiranya tangan lemahku tak mampu menggapai semuanya
hingga batas waktu yang Engkau tetapkan untukku tiba, maka aku mohon
anugerahkanlah aku kesabaran yang sesabar-sabarnya, keikhlasan yang
seikhlas-ikhlasnya, dan kekuatan yang sekuat-kuatnya.
Tuhan, anugerahkan aku mata yang mampu
melihat segala kebaikan dalam hidup ini, bukan mata yang hanya silau pada
keindahan dunia. Anugerahkan aku telinga yang sabar mendengar hal-hal sedih yang
disebut muksibah, bukannya telinga yang hanya mau mendengar berita-berita
gembira saja. Anugerahkan aku tangan dan kaki yang selalu patuh untuk melakukan
kebaikan dan berjalan di kebenaran. Anugerahkan aku hati yang selalu bersih dan
jiwa yang selalu bertakwa.
Tuhan, segala Puji bagiMu yang telah menganugerahkan
malam pada bumi, karena padanya aku sejenak bisa bersembunyi dari lelah yang
mendera.
*ed
Tidak ada komentar:
Posting Komentar