Sabtu, 23 Juli 2016

Untuk yang Maha Mendengar, Aku Ingin Bercerita


Tuhan, ini aku datang lagi, yang entah pada kali ke berapa hari ini aku memanggil namaMu, meski hanya terlafazkan dalam hati.
Tuhan, aku selalu saja bingung memilih kata apa, atau kalimat apa untuk membuka dialogku ke padaMu, tapi yang jelas, apapun yang akan aku sampaikan kali ini lagi-lagi tentang segala kecemasan yang berkecamuk dalam hati. Tapi untuk pertama kalinya aku mohon ampun kepadaMu, karena aku bukanlah seorang hamba yang pandai menata hati, sehingga segala kecemasan tersebut kentara tergambar di wajahku yang murung. Aku minta ampun padamu Rabb, jika sekiranya hal itu membuatku menjadi seperti, atau tak bersyukur kepadaMu. 

 
Sungguh Tuhanku, tak inginku menjadi hamba yang kufur akan nikmatMu yang begitu banyak kau curahkan kepadaku, hanya saja aku belum mampu menyimpan kecemasan-kecemasan itu jauh di dalam hati hingga mereka menutup rona cerah di mukaku. Dan juga melaluiMu, kusampaikan maafku untuk orang-orang yang mungkin tersinggung atau menjadi takut pada wajahku yang tak lagi terkesan ramah. Aku hanya tak mungkin saja menerakan semua pada mereka, bahwa ada beban berat di fikiranku yang membuatku tak mampu selalu tersenyum, tertawa dan seakan terlihat baik-baik saja seperti mereka.
Tuhan, aku juga minta ampun, jika sekiranya segala kecemasan yang membeban di hatiku terkadang membuatku seperti memandang sinis hidup ini. Ampunkan aku Tuhan, karena bukankah Engkau selalu menempatkan hambaMu pada sebuah kondisi dengan maksud penuh hikmah di dalamnya? Dan, bukankah Engkau selalu punya skenario terbaik untuk setiap hambaMu yang berdoa dan berusaha?
Sungguhpun demikian Tuhan, aku tetap memohon padaMu, jika sekiranya nanti aku sampai pada titik paling nadir di dalam hidup dan perjuanganku, jika sekiranya nanti aku kehilangan arah dan tujuan hidupku, maka yakinkanlah aku bahwa takdirMu jauh lebih baik dari semua yang aku impikan itu.
Tuhan, seperti yang juga Engkau tahu, terkadang aku menjadi marah. Marah pada apa saja. Marah pada hidupku, marah pada kebodohanku, marah pada ketidakmampuanku. Itu karena terkadang aku juga menjadi sangat lelah. Lelah pada usaha yang seperti sia-sia, lelah pada perjuangan yang tak kunjung berbuah. Lelah pada perasaan bersalah dan juga lelah pada perasaan takut disalahkan. Segala kelelahan itu, segala kemarahan itu, tak pelak membuatku menyurutkan langkah, juga tak jarang membuatku sejenak menjauh dariMu. Maafkan aku Tuhan, bukankah Engkau memerintahkan hambaMu untuk bersabar?
Tuhanku, yang Maha Pengasih dan Penyanyang, yang Maha Memberi Ampunan dan Pertolongan, yang Maha Mendengar dan yang Maha Mengabulkan permintaan, padaMu kutitipkan segala cita, semoga senantiasa kau peluk segala mimpiku. Dan semoga selalu Engkau mampukan aku untuk terus memperjuangkannya. Dan semoga Engkau beri aku kesempatan mewujudkannya. Tapi jika sekiranya tangan lemahku tak mampu menggapai semuanya hingga batas waktu yang Engkau tetapkan untukku tiba, maka aku mohon anugerahkanlah aku kesabaran yang sesabar-sabarnya, keikhlasan yang seikhlas-ikhlasnya, dan kekuatan yang sekuat-kuatnya.
Tuhan, anugerahkan aku mata yang mampu melihat segala kebaikan dalam hidup ini, bukan mata yang hanya silau pada keindahan dunia. Anugerahkan aku telinga yang sabar mendengar hal-hal sedih yang disebut muksibah, bukannya telinga yang hanya mau mendengar berita-berita gembira saja. Anugerahkan aku tangan dan kaki yang selalu patuh untuk melakukan kebaikan dan berjalan di kebenaran. Anugerahkan aku hati yang selalu bersih dan jiwa yang selalu bertakwa.
Tuhan, segala Puji bagiMu yang telah menganugerahkan malam pada bumi, karena padanya aku sejenak bisa bersembunyi dari lelah yang mendera.
*ed

Tidak ada komentar: