Seberapa kuat tulang-tulangku berdiri,
seberapa kencang kakiku mampu berlari, mungkin telah kau ukur semenjak kudaki
punggungmu yang curam lagi terjal untuk yang pertama kalinya.
Jauh sebelum aku berada disini, pada ruang
dan waktu yang membuat ku mengerti betapa sesak dan gerahnya berkelana di antara
kaki-kaki yang kokoh, punggung-punggung yang angkuh yang enggan memberi celah
untukku berhenti sejenak melepas penat. Seperti siang ini, mataku terasa panas,
bukan karena terik yang membakar kulitku, juga bukan karena air yang selalu
ingin menembus keluar kelopaknya yang lelah, tapi karena debu yang berterbangan
dari kaki-kaki kokoh yang menari-nari kegirangan. Aku membayangkan diriku
berdiri dipuncakmu, menatap lembaran-lembaran hijau yang tumbuh indah tanpa
suara, juga aliran damai dari kali dan mata air dengan percikannya yang syahdu.
Aku merindukanmu selalu dalam waktuku.
Betapa kuingin berlari ketempatmu berdiri,
biar kudaki lagi punggungmu meski kusering tersandung, terjatuh dan terguling
karena kakiku terjerat akar-akar kering yang juga sama-sama diam sepertimu.
Tapi kuingin kesana, kepuncakmu yang diam, agar bisa berteriak memanggil angin yang telah
lama menjanjikan untukku “terbang jauh bersama asaku”.
Jilamu, aku masih seperti dahulu, takut
ketinggian,takut punggungmu yang curam dan terjal, tapi tetap rindu pada
puncakmu yang diam.
*ed
Tidak ada komentar:
Posting Komentar