Jumat, 22 Juli 2016

Aku Rindu Diammu, Jilamu

Seberapa kuat tulang-tulangku berdiri, seberapa kencang kakiku mampu berlari, mungkin telah kau ukur semenjak kudaki punggungmu yang curam lagi terjal untuk yang pertama kalinya.
Jauh sebelum aku berada disini, pada ruang dan waktu yang membuat ku mengerti betapa sesak dan gerahnya berkelana di antara kaki-kaki yang kokoh, punggung-punggung yang angkuh yang enggan memberi celah untukku berhenti sejenak melepas penat. Seperti siang ini, mataku terasa panas, bukan karena terik yang membakar kulitku, juga bukan karena air yang selalu ingin menembus keluar kelopaknya yang lelah, tapi karena debu yang berterbangan dari kaki-kaki kokoh yang menari-nari kegirangan. Aku membayangkan diriku berdiri dipuncakmu, menatap lembaran-lembaran hijau yang tumbuh indah tanpa suara, juga aliran damai dari kali dan mata air dengan percikannya yang syahdu. Aku merindukanmu selalu dalam waktuku.
Betapa kuingin berlari ketempatmu berdiri, biar kudaki lagi punggungmu meski kusering tersandung, terjatuh dan terguling karena kakiku terjerat akar-akar kering yang juga sama-sama diam sepertimu. Tapi kuingin kesana, kepuncakmu yang diam,  agar bisa berteriak memanggil angin yang telah lama menjanjikan untukku “terbang jauh bersama asaku”.
Jilamu, aku masih seperti dahulu, takut ketinggian,takut punggungmu yang curam dan terjal, tapi tetap rindu pada puncakmu yang diam.
*ed

Tidak ada komentar: